Sepatah Surat

Aku tahu,
yang ayah ucap tempo lalu adalah lambang kesedihanmu.
Aku paham,
yang ayah jelaskan saat itu adalah kekhawatiran.
Namun,
tekadku bulat untuk pergi, sekedar berjuang untukmu jua pasti.

Ayah, jika masih aku diberi kesempatan—restumu lah yang kujadikan acuan. Jangan lepas aku dengan air mata yang sedu-sedan,
aku tetap puterimu, yang menangis saat malam pada kabar-kabarmu yang jauh untuk kurawat dengan sayang.

Aku ingn kau kembali ke rumah, tenang duduk ngopi di teras bersama kawan lama. Sudah saatnya kau berhenti, jauh dari keluargamu sendiri.

Putri Palupi
Purworejo, 5 November 2021

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PAMITAN

PEMBEBASAN

SELF BEGANDRING