Rangkaian Tiga Puisi
Berjalan Sendiri
-Putri Palupi-
Aku manusia. Terkadang suka lupa ini sedang hidup di dunia. Dan terkadang suka lupa—kalau pada dasarnya hanya bisa hidup bersama-sama, melangkah beriringan dan berpasang-pasangan. Mungkin aku terlalu sibuk berambisi mengejar segala infestasi duniawi
Aku sudah lebih pagi menyadari yang aku alami, tapi nampaknya ini terlalu dini hari, sebab aku masih berjalan sendiri
Senja Di Tengah Hutan
-Putri Palupi-
Lurus mata memandang, celah jalan dan rimbun kaku pepohonan.
Aku menatap langit indah berwarna jingga—orang bilang senja sebutannya.
Katanya..., pergilah ke pantai—maka senja akan melambai.
Tapi aku berfikir, sepertinya untuk mengiringi sebuah kepergian tidak perlu menuju pantai, cukup di sini. Dimana pun masih tetap bisa menyertai.
Jenuh Ini Terus Ada
-Putri Palupi-
Aku manusia. Terkadang suka lupa ini sedang hidup di dunia. Dan terkadang suka lupa—kalau pada dasarnya hanya bisa hidup bersama-sama, melangkah beriringan dan berpasang-pasangan. Mungkin aku terlalu sibuk berambisi mengejar segala infestasi duniawi
Aku sudah lebih pagi menyadari yang aku alami, tapi nampaknya ini terlalu dini hari, sebab aku masih berjalan sendiri
Senja Di Tengah Hutan
-Putri Palupi-
Lurus mata memandang, celah jalan dan rimbun kaku pepohonan.
Aku menatap langit indah berwarna jingga—orang bilang senja sebutannya.
Katanya..., pergilah ke pantai—maka senja akan melambai.
Tapi aku berfikir, sepertinya untuk mengiringi sebuah kepergian tidak perlu menuju pantai, cukup di sini. Dimana pun masih tetap bisa menyertai.
Jenuh Ini Terus Ada
-Putri Palupi-
Aku mulai benci dengan pembohongan diri sendiri.
Perasaan, yang aku lakukan hanya datang, duduk, lalu pulang.
Pura-pura senang,tertawa,dan melakukan segala pekerjaan bersama mereka.
Selalu merasa ada yang hilang—bak kucari satu jarum di tumpukan jerami, dan berbaur pada bosan yang kulalui sendiri.
Simulasi mimik rai yang terpampang, sebenarnya ini aku sedang berusaha menutupi segala derita diri.
Dimana bisa kulepas segala yang membebani?
Paling paling yang aku lakukan adalah pulang petang, menunggu senja datang, lalu sejenak lupa dengan bosan, dan esok mengulang jenuh yang tak pernah bisa hilang.
Min, 27 Januari 2019
Aku mulai benci dengan pembohongan diri sendiri.
Perasaan, yang aku lakukan hanya datang, duduk, lalu pulang.
Pura-pura senang,tertawa,dan melakukan segala pekerjaan bersama mereka.
Selalu merasa ada yang hilang—bak kucari satu jarum di tumpukan jerami, dan berbaur pada bosan yang kulalui sendiri.
Simulasi mimik rai yang terpampang, sebenarnya ini aku sedang berusaha menutupi segala derita diri.
Dimana bisa kulepas segala yang membebani?
Paling paling yang aku lakukan adalah pulang petang, menunggu senja datang, lalu sejenak lupa dengan bosan, dan esok mengulang jenuh yang tak pernah bisa hilang.
Min, 27 Januari 2019
Komentar
Posting Komentar